LANDASAN SYARIAH MENGAPA PERLU DIKALENGKAN???

Pada mulanya Rasulullah Muhammad SAW melarang para sahabat dan umat muslim untuk menyimpan daging Qurban selama lebih dari 3 hari. Sebagaimana dalam hadits Aisyah RA : “Dahulu kami biasa mengasikan daging udhhiyah (qurban) sehingga kami bawa ke Madinah, tiba-tiba Nabi SAW bersabda : “Janganlah kalian menghabiskan daging qurban kecuali dalam waktu 3 hari.” (HR. riwayat Bukhari dan Muslim).

Namun kemudian Rasulullah Muhammad SAW memperbolehkan umat muslim untuk menyimpan atau mengawetkan daging qurban. Hal tersebut dilakukan agar orang miskin yang memperoleh daging Qurban bisa tetap bertahan hidup pada masa paceklik.

Sebagaimana yang dijelaskan pada hadits Salamah bin Al-Akwa, berkata : Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang menyembelih qurban maka jangan ada sisanya sesudah 3 hari dirumahnya walaupun sedikit.” Tahun berikutnya orang-orang bertanya : “Ya Rasulullah apa kami harus berbuat seperti tahun lalu?” Nabi Muhammad SAW menjawab : ”Makanlah dan berikan kepada orang-orang dan simpanlah sisanya. Sebenarnya tahun lalu banyak orang yang menderita kekurangan akibat paceklik, maka aku ingin kalian membantu mereka.”

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa terkait pengawetan dan pendistribusian daging kurban dalam bentuk olahan. Dalam fatwa Nomor 37 Tahun 2019 yang telah disahkan pada 7 Agustus 2019 itu, MUI membolehkan daging kurban diawetkan dan dikirim ke warga dalam bentuk olahan.

Maka dengan jelas disebutkan bahwa menyimpan daging qurban dengan cara mengawetkannya, baik itu diasinkan, didendeng atau dengan cara dikornetkan, hukumnya boleh dilakukan. Terlebih jika penyimpanan dan pengolahan daging qurban memiliki tujuan dan manfaat yang lebih besar, seperti kepraktisan dan kemudahan untuk diberikan kepada masyarakat yang berhak. Namun mampu menjangkau area pendistribusian yang lebih luas.